The 11th Hour
Agustus 12, 2008

Sebuah
film narasi yang berjudul “The 11th Hour”, mengangkat issue dunia
internasional yaitu global warming. Dengan penuturan yang sangat detail
dan mudah dicerna, Loenardo Di caprio yang menjadi produser dan
narator film ini, membawa kita penonton kedalam suatu petualangan
science yang nyata dan membuat mata terbuka.
Issue global warming, yang saat ini hangat
dibicarakan dunia internasional, “the 11th hour” membawa kita pada
perspektif yang berbeda. Film ini akan membuat penonton menginginkan
yang lebih. Seperti film documenter inconvenience of truth by Al gore,
leonardo menarasikan global warming adalah bentuk balas dendam alam
pada manusia.
Selama lebih dari 200 tahun, manusia sudah merampas
semua sumber daya alam dengan tanpa henti dan tanpa feedback. Sebelum
manusia menemukan sumber bahan bakar 2 abad yang lalu, tingkat
pertumbuhan kelahiran manusia sangat lah lamban. Pada abad ke 18, total
penduduk bumi belum mencapai 1 miliyar. Pergerakan perkembangan
manusia sangatlah lamban. Manusia masihlah sangat nature, memanfaatkan
lahan dan peternakan untuk keberlangsungan hidup.
Lalu, “Boom” terjadi, ketika manusia dengan
perkembangan intelijennya yang cepat, menemukan sumber bahan bakar. Era
yang menjadi momentum, terlahirnya sebuah revolusi indusri, pada awal
abad 19. Pertambangan bahan bakar terjadi diseluruh dunia, explorasi
sumber daya terjadi di semua belahan dunia, dan semua bidang kehidupan.
Diikuti dengan penemuan penemuan yang membawa manusia ke era
perubahan.
Ditemukannya listrik, mesin, pengobatan, konstruksi
bangunan, transportasi membawa manusia mengalamai ledakan pertumbuhan.
Dari jumlah pendudukan yaang kurang dari 1 miliyar sebelum abad 18,
dalam 1 abad setelah revolusi industri, penduduk bumi meningkat menjadi
3 milyar sampai awal abad 20. Kemudahan manusia dalam pengobatan
kesehatan, pangan, transportasi, komunikasi, membawa manusia lebih
gencar mengexplorasi sumber daya alam. Kebutuhan penduduk dunia yang
semakin tinggi, membuat hutan hutan hujan, menjadi ladang pertanian,
sungai dibendung untuk pengairan dan sumber air manusia, munculnya
industri segala bidang, makanan, pakaian, transportasi, telekomunikasi
dll, mengakibatkan kebutuhan sumber daya bahan bakar lebih tinggi.
Dampaknya pembuangan gas emisi yang secara brutal, merupakan dampak
pemanasan dunia secara global.
“Whats wrong with mankind?” inilah intisari yang dipaparkan narator film ini.
Film ini membuktikan tingkat konsumeritas manusia
sudah pada ambang kritis. Film ini menganalogikan, manusia sekarang
pada “On the critical line.”
Lalu, pertanyaan yang muncul, what should we do? By who? When? Where?
Inilah pesan dari film the 11th hour. Disisi lain
kita manusia, tidak mungkin menghilangkan kebutuhan kita akan bahan
bakar, kita tidak mungkin menghilangkan tingkat konsumeritas pada
segala resource di dunia. Tapi kita adalah manusia, mahluk dengan
tingkatan hidup tertinggi, yaitu homo sapien sapiens. Mahluk yang
paling cerdas di muka bumi.
Banyak hal yang dapat diciptakan. Ide dan teknologi
akan membuat dunia lebih baik. Film ini pun mengajak manusia untuk
menyadari, bahwa manusia hidup karena bumi dan matahari. Manusia adalah
bagian dari bumi. Tanaman, hewan, sumber daya alam berasal dari bumi
dan matahari. Film ini mengajak kita untuk mempertimbangkan sumber
energi yang ada; air, angin dan matahari.
Lalu apa jawaban pertanyaan tadi? Apa yang harus
kita lakukan? Oleh siapa? Kapan? Dan dimana ? Film ini membawa kita,
untuk menyadari, seberapa banyak manusia telah rakus terhadap alam. Dan
alam telah membalasnya, ketika kutub utara mencair, bencana alam di
berbagai belahan dunia terjadi, kepunahan lima puluh ribu spesies
binatang, ribuan penyakit baru bermunculan, perang akibat kebutuhan
bahan bakar dan kelaparan, telah terjadi. Film ini membuka mata kita,
bahwa kita manusia harus melakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri,
sekarang juga, dan dimanapun kita berada.
Film ini membawa pesan, kita dapat mengurangi
tingkat konsumeritas secara global, manusia dapat menyelamatkan dunia
dari pemanasan global. Menyelamatkan hutan hujan dengan penanaman
kembali, mengurangi konsumeritas dengan cara menghemat segala produk
hutan, kertas, rumah kayu, pembakaran bahan bakar kayu. Memberikan
feedback bagi dunia, dengan cara menanam beberapa pohon atau tanaman
dihalaman rumah, sebagai kontribusi mengganti kadar oksigen yang kita
gunakan untuk bumi. Kemudian, mengurangi penggunaan bahan bakar dengan
memanfaatkan teknologi solar cell, memanfaatkan teknologi transportasi
bertenaga listrik. Dalam keseharian, mengganti tas plastik dengan tas
kain, mengurangi gaya hidup berlebihan. Jika ketika kita biasa belanja
dengan tanpa membawa tas sendiri, mulailah dengan membawa tas kain
pribadi. Ketika kita menggunakan 10 lembar kertas perhari, rubahlah
dengan 5 lembar, dan sisanya adalah manual. Apapun kegiatan yang
dilakukan atas dasar mengurangi dan menghemat energi, merupakan tindakan
kecil namun sangat berarti. Jika satu orang menghemat air pembuangan
sebanyak 1 liter, maka, dalam 1 hari ada 3 miliyar liter air yang dapat
diselamatkan. Hal kecil dapat menjadi besar, bagi diri sendiri,
lingkungan dan masa depan.
Kapan ini harus dimulai? Tentu saja saat ini, sekarang juga, dimana pun kita berada.