Rabu, 25 April 2012

Film 11th Hour

The 11th Hour

Sebuah film narasi yang berjudul “The 11th Hour”, mengangkat issue dunia internasional yaitu global warming. Dengan penuturan yang sangat detail dan mudah dicerna, Loenardo Di caprio yang menjadi produser dan narator film ini, membawa kita penonton kedalam suatu petualangan science  yang nyata dan membuat mata terbuka.
Issue global warming, yang saat ini hangat dibicarakan dunia internasional, “the 11th hour” membawa kita pada perspektif yang berbeda. Film ini akan membuat penonton menginginkan yang lebih.  Seperti film documenter inconvenience of truth by Al gore, leonardo menarasikan global warming adalah bentuk balas dendam alam pada manusia.
Selama lebih dari 200 tahun, manusia sudah merampas semua sumber daya alam dengan tanpa henti dan  tanpa feedback. Sebelum manusia menemukan sumber bahan bakar 2 abad yang lalu, tingkat pertumbuhan kelahiran manusia sangat lah lamban. Pada abad ke 18, total penduduk bumi belum mencapai 1 miliyar. Pergerakan perkembangan manusia sangatlah lamban. Manusia masihlah sangat nature, memanfaatkan lahan dan peternakan untuk keberlangsungan hidup.
Lalu, “Boom” terjadi, ketika manusia dengan perkembangan intelijennya yang cepat, menemukan sumber bahan bakar. Era yang menjadi momentum, terlahirnya sebuah revolusi indusri, pada awal abad 19. Pertambangan bahan bakar terjadi diseluruh dunia, explorasi sumber daya terjadi di semua belahan dunia, dan semua bidang kehidupan. Diikuti dengan penemuan penemuan yang membawa manusia ke era perubahan.
Ditemukannya listrik, mesin, pengobatan, konstruksi bangunan, transportasi membawa manusia mengalamai ledakan pertumbuhan. Dari jumlah pendudukan yaang kurang dari 1 miliyar sebelum abad 18, dalam 1 abad setelah revolusi industri, penduduk bumi meningkat menjadi 3 milyar sampai awal abad 20. Kemudahan manusia dalam pengobatan kesehatan, pangan, transportasi, komunikasi, membawa manusia lebih gencar mengexplorasi sumber daya alam. Kebutuhan penduduk dunia yang semakin tinggi, membuat hutan hutan hujan, menjadi ladang pertanian, sungai dibendung untuk pengairan dan sumber air manusia, munculnya industri segala bidang, makanan, pakaian, transportasi, telekomunikasi dll, mengakibatkan kebutuhan sumber daya bahan bakar lebih tinggi. Dampaknya pembuangan gas emisi yang secara brutal, merupakan dampak pemanasan dunia secara global.
“Whats wrong with mankind?” inilah intisari yang dipaparkan narator film ini.
Film ini membuktikan tingkat konsumeritas manusia sudah pada ambang kritis. Film ini menganalogikan, manusia sekarang pada “On the critical line.”
Lalu, pertanyaan yang muncul, what should we do? By who? When? Where?
Inilah pesan dari film the 11th hour. Disisi lain kita manusia, tidak mungkin menghilangkan kebutuhan kita akan bahan bakar, kita tidak mungkin menghilangkan tingkat konsumeritas pada segala resource di dunia. Tapi kita adalah manusia, mahluk dengan tingkatan hidup tertinggi, yaitu homo sapien sapiens. Mahluk yang paling cerdas di muka bumi.
Banyak hal yang dapat diciptakan. Ide dan teknologi akan membuat dunia lebih baik. Film ini pun mengajak manusia untuk menyadari, bahwa manusia hidup karena bumi dan matahari. Manusia adalah bagian dari bumi. Tanaman, hewan, sumber daya alam berasal dari bumi dan matahari. Film ini mengajak kita untuk mempertimbangkan sumber energi yang ada; air, angin dan matahari.
Lalu apa jawaban pertanyaan tadi? Apa yang harus kita lakukan? Oleh siapa? Kapan? Dan dimana ? Film ini membawa kita, untuk menyadari, seberapa banyak manusia telah rakus terhadap alam. Dan alam telah membalasnya, ketika kutub utara mencair, bencana alam di berbagai belahan dunia terjadi, kepunahan lima puluh ribu spesies binatang, ribuan penyakit baru bermunculan, perang akibat kebutuhan bahan bakar dan kelaparan, telah terjadi. Film ini membuka mata kita, bahwa kita manusia harus melakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri, sekarang juga, dan dimanapun kita berada.
Film ini membawa pesan, kita dapat mengurangi tingkat konsumeritas secara global, manusia dapat menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Menyelamatkan hutan hujan dengan penanaman kembali, mengurangi konsumeritas dengan cara menghemat segala produk hutan, kertas, rumah kayu, pembakaran bahan bakar kayu. Memberikan feedback bagi dunia, dengan cara menanam beberapa pohon atau tanaman dihalaman rumah, sebagai kontribusi mengganti kadar oksigen yang kita gunakan untuk bumi. Kemudian, mengurangi penggunaan bahan bakar dengan memanfaatkan teknologi solar cell, memanfaatkan teknologi transportasi bertenaga listrik. Dalam keseharian, mengganti tas plastik dengan tas kain, mengurangi gaya hidup berlebihan. Jika ketika kita biasa belanja dengan tanpa membawa tas sendiri, mulailah dengan membawa tas kain pribadi. Ketika kita menggunakan 10 lembar kertas perhari, rubahlah dengan 5 lembar, dan sisanya adalah manual. Apapun kegiatan yang dilakukan atas dasar mengurangi dan menghemat energi, merupakan tindakan kecil namun sangat berarti. Jika satu orang menghemat air pembuangan sebanyak 1 liter, maka, dalam 1 hari ada 3 miliyar liter air yang dapat diselamatkan. Hal kecil dapat menjadi besar, bagi diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
Kapan ini harus dimulai? Tentu saja saat ini, sekarang juga, dimana pun kita berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar